Selama tahun 1980-an, istilah Disaster Recovery (DR) menjadi terkenal sebagai definisi untuk membangun ulang dan pemulihan akibat bencana. Sedangkan focus utama daripada disaster recovery dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu rebuilding atau pembangunan ulang.
Dalam tahun 1988, the Disaster Recovery Institute International (DRII) dibuat dan kemudian mengeluarkan daftar dari praktek professional untuk perencanaan disaster recovery . Tujuannya untuk membantu organisasi dengan rencana mereka untuk memastikan bahwa mereka bisa membangun kembali dan memulihkan fasilitas mereka dan peralatan akibat dari bencana.
Bencana atau gangguan yang menyebabkan sumber daya kritikal informasi menjadi tidak bisa dijalankan dalam periode tertentu sangat berpengaruh pada operasional organisasi. Ancaman yang paling besar terhadap kelangsungan organisasi apapun terpusat pada kelangsungan financial mereka. Salah satu yang perlu diperhatikan dari semua kondisi yang telah diukur adalah sebagai berikut;
- Organisasi tidak melanggar perjanjian kemitraan yang penting
- Investor tidak mengurangi stok nya dengan melakukan penjualan murah dan cepat
- Pelanggan tetap melanjutkan bisnis tanpa ragu-ragu atau membatalkan pesanannya
- Rekan bisnis tetap melanjutkan pekerjaannya dengan persyaratan sebelumnya sesuai dengan kontrak tanpa meminta persyaratan baru atau menunda pelayanan
Kegagalan dari kondisi tersebut bisa melemahkan struktur organisasi dan kemampuan manajemen untuk melanjutkan operasional. Kebanyakan semua aktifitas dalam Disaster Recovery (DR) fokus dalam pembangunan ulang untuk menyamakan reputasi bisnis sebelum bencana. Tetapi semua itu bisa menjadi sia-sia tanpa pelanggan anda dan aliran penghasilan yang dibuat karena pemebelian mereka.
Bencana dapat disebabkan oleh bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, tornado, kebakaran yang dapat mengakibatkan kerusakan pada fasilitas secara umum. Bencana lain juga bisa disebabkan oleh gangguan yang terjadi pada pelayanan seperti sumber listrik, telekomunikasi, persedian gas, atau pelayanan lain yang tidak bisa diberikan pada perusahaan karena bencana alam atau sebab lainnya.
Tidak sama dengan Disaster Recovery (DR), fokus Business continuity (BC) adalah revenue. Selama organisasi mempunyai waktu dan uang, organisasi tersebut dapat melanjutkan fungsinya. Business continuity fokus pada memasukkan banyak uang di bank, walaupun jika bisnis tidak mengirim produk. Tujuan utama dari business continuity (BC) adalah untuk memastikan bahwa fungsi bisnis utama dapat dijalankan dengan cara minimal atau tanpa hambatan.
Secara umum, konsep Business Continuity (BC) adalah sama dengan gabungan dari disaster recovery planning ditambah dengan business continuity. Tergantung dengan kompleksitas perusahaan, bisa jadi satu atau lebih rencana untuk mencatat beberapa aspek dari business continuity dan disaster recovery.Walaupun dengan proses yang sama dari organisasi yang sama bisa saja dibedakan oleh lokasi geografi. Solusi yang disarankan bisa berbeda.
Business Continuity Planning (BCP) adalah sebuah proses yang dirancang untuk mengurangi resiko bisnis pada organisasi yang muncul dari gangguan yang tidak diharapkan. Hal ini termasuk sumber daya manusia atau material yang mendukung kritikal fungsi atau operasional dan kepastian dari kelangsungan pelayanan, paling tidak pada tingkat yang minimal.
Langkah pertama dalam persiapan rencana business continuity baru adalah meng-identifikasi bisnis proses dari strategi yang penting, dimana proses utama tersebut adalah ber tanggung jawab pada perkembangan dari bisnis dan untuk memenuhi tujuan bisnis.
Business Continuity Planning (BCP) adalah tanggung jawab utama dari senior manajemen, sehingga mereka dipercaya dengan mengamankan asset dan kelangsungan organisasi. Business Continuity secara umum diikuti oleh bisnis dan unit pendukung untuk memberikan pelayanan minimum pada saat ada gangguan dan ketika pemulihan dilakukan. Rencana harus mencakupi semua fungsi dan asset yang diperlukan untuk melanjutkan kelangsungan organisasi.
Business continuity planning mempunyai beberapa pertimbangan sebagai berikut;
- Kritikal operasional yang sangat penting untuk kelangsungan organisasi
- Sumber daya manusia dan material yang mendukung nya
Selain perencanaan untuk kelangsungan operasional, BCP termasuk;
- Disaster Recovery Plan yang digunakan untuk memperbaiki fasilitas yang tidak bisa dioperasikan, termasuk relokasi operasional ke lokasi yang baru
- Rencana perbaikan yang digunakan untuk mengembalikan operasional ke kondisi normal dimana akan dioperasikan di lokasi baru
Bencana (Disaster) adalah gangguan yang menyebabkan sumber daya informasi tidak bisa dioperasikan selama waktu tertentu dan mempunyai dampak yang tidak baik dalam operasional organisasi. Disaster Recovery (DR) adalah bagian dari business continuity, dan berhubungan dengan pengaruh langsung dari bencana. DR biasanya mempunyai beberapa tahapan perencanaan, walaupun kadang-kadang tahapan tersebut menjadi kabur dalam implementasinya karena situasi selama krisis hampir sangat berbeda dengan rencana.
Disaster recovery mencakupi penghentian dampak dari bencana secepat mungkin dan menjalankan alternatif lain segera. Seperti halnya mematikan server yang terkena gangguan, evaluasi sistem yang terkena dampak seperti banjir atau gempa bumi dan menetapkan cara yang terbaik dalam pelaksanaannya.
Berikut ini adalah siklus dari perencanaan, implementasi dan penilaian yang menjadi bagian daripada siklus perawatan BC/DR .
![]() |
|


Discussion
No comments yet.